Pro dan kontra mengenai seragam sekolah terus berlanjut. Bagaimana seharusnya pihak sekolah bersikap? Kali ini artikel akan disuguhkan lebih mendetail dari aspek tertentu.
Memberi Sinyal Kesadaran
Beberapa alasan dikemukakan bahwa seragam sekolah dapat mendorong anak untuk mengambil sikap serius saat berangkat ke sekolah. Saat mengenakan seragam di pagi hari, dia memberi “sinyal kesadaran” yang memberi transisi antara waktu rileks di rumah dengan waktu bekerja di sekolah. Hal ini dicontohnya dari ayah waktu berangkat bekerja, ada nuansa berbeda saat berganti dari “pakaian bermain” ke “pakaian bekerja”.
Bagi yang tidak menerapkan kewajiban berseragam mutlak (mulai topi sampai sepatu), maka “sinyal kesadaran” ini bisa didapat dari kewajiban untuk mengenakan tanda pengenal yang digantung di leher, topi, atau sekedar jas almamater.
Manfaat yang Dipertanyakan


Banyak yang berpikir bahwa seragam sekolah dapat membantu menjaga disiplin siswa. Sayangnya ini kemudian diputarbalikkan dengan memandang seolah yang tidak berseragam tidak dapat berdisiplin. Ini adalah pendapat yang tidak memiliki dasar ilmiah, karena hanya mendasarkan pada asumsi saja. Pada kenyataannya, selalu terdapat masalah kedisiplinan di sekolah manapun. Di sisi lain, di tempat-tempat kursus swasta yang tidak diwajibkan adanya penyeragaman hal kedisiplinan tidak menjadi masalah yang besar.
Pada mulanya, seragam sekolah lebih murah daripada banyak pakaian lain. Sekolah berpendapat bahwa seragam sekolah lebih ekonomis karena kesederhanaannya, dan dibuat untuk dipakai terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Sebenarnya tidak ada istilah kuno bagi seragam SD merah-putih yang sudah begitu sejak puluhan tahun yang lalu, sehingga dapat diwariskan dari kakak ke adik.
Adanya seragam khas yang mencirikan sekolah tertentu di hari Rabu dan Kamis, misalnya, mendorong sekolah untuk mengkreasikan corak tertentu yang malah mendorong beberapa sekolah seperti ajang peragaan busana, karena tiap tahun corak tersebut berganti-ganti karena mengikuti mode. Tentu saja hal ini dapat membiaskan siswa dari fungsi berseragam —bahkan tujuan utamanya berangkat ke sekolah. Orang terdorong untuk melihat sekolah dari fisik ketimbang mental. Di Jepang, siswi yang pesolek dan siswa yang berseragam modis mendapat kesan terbelakang, karena mereka dianggap tidak bersungguh-sungguh sekolah dan mementingkan mode saja.
Di sisi lain, tidak ada lagi pewarisan seragam yang dapat meminimalisir biaya pembelian seragam baru dan mencegah corat-coret saat kelulusan. Beberapa sekolah malah melaporkan bahwa perkelahian antar pelajar terjadi karena saling ejek terhadap seragam sekolah yang kurang trendi atau modis.
Dimana Letak Keunikan Individu?
Seragam dapat menghilangkan perbedaan, begitu yang diajukan oleh kalangan tradisionalis, yang sebenarnya ini adalah sebuah permasalahan. Para pendidik berpendapat bahwa pendidikan ditujukan untuk mendorong siswa untuk mengejar pemikiran individu jauh lebih penting daripada apa yang mereka kenakan. Mereka menghambat kreativitas dan ekspresi diri, memaksa siswa untuk menutupi keunikan dirinya hanya untuk tidak tampil berbeda dari yang lain. Perbedaan antara si kaya dengan si miskin harusnya ditanggulangi dengan amal nyata, yakni membantu si miskin agar terangkat tingkat ekonominya. Bukan dengan menyeragaminya sehingga kemiskinan itu tertutupi meskipun tetap ada.
Kekaburan Standar Disiplin Menyebabkan Masalah
Banyak sekolah yang menetapkan standar disiplin yang tidak jelas. Misalnya, mengenakan sepatu dianggap lebih sopan dari sandal jepit, ini bisa diterima. Namun di sisi lain mengenakan baju tidak menutup aurat dibiarkan begitu saja tanpa teguran, ini adalah inkonsistensi. Bila sekolah tidak memiliki standar yang bisa diterima, maka aturan demi aturan hanya membebani siswa. Mereka tidak dapat diharapkan tumbuhnya kesadaran dari dalam karena tidak melihat apa manfaat dari aturan tersebut. Aturan celana siswa SD harus pendek, seberapa pendek? dan yang lebih esensial untuk apa? kalau sekedar peraturan maka siswa akan cenderung memberontak dan ini akan menyulitkan guru yang harus bertugas seolah polisi di sekolah.
Kedisiplinan yang diajarkan Islam sangat sederhana dan mudah dipahami, sehingga diharapkan kesadaran dari dalam akan tumbuh seiring diperkenalkan aturan-aturan itu. Misalnya: menutup aurat. Jelas batasannya, dan jelas juga manfaatnya. Misalnya: menjaga kemuliaan, melindungi diri, dan sebagai tanda pengenal. Tatkala guru harus memperingatkan siswa yang tidak berpakaian menutup aurat, maka pemberian pemahamannya akan jauh lebih mudah dan mengena.
Islam tidak melarang penyeragaman. Namun hendaklah tidak memberatkan apalagi dikomersialisasi.
Related posts:









