top
search
sender
user
myhome

Kategori | Artikel Pendidikan

Penulis/Sumber |

Membenahi (kurikulum) Pesantren

Dimoderasi pada 18 December 2009 oleh Murni Ramli

 

http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/img/moh2aa.jpg

Situasi Pesantren

 

Kalau Al-Quran sudah kita akui sebagai pedoman hidup, maka sebagai muslim sepantasnya kita tidak sekedar membacanya tapi mempelajari kandungan isinya dan berusaha mengamalkan isinya. Di Pesantren kami belajar dan mengajarkan ini, tapi masih banyak yang harus dibenahi….

Pondok Pesantren (PP) dapat dikatakan sebagai cikal bakal model pendidikan Islam di Indonesia. Ada kurang lebih 14.600 pesantren di Indonesia yang tercatat di DEPAG, yang kebanyakan berada di rural area. Pesantren juga menjadi andalan orang tua yang tidak memiliki cukup dana untuk menyekolahkan anaknya. Sebagian besar pesantren tidak bersifat komersial, sejalan dengan ajaran Islam yang menganjurkan agar mempermudah jalan bagi para penuntut ilmu. Dahulu pesantren lahir tanpa lisensi dari pemerintah, tapi sekarang ini kebebasan untuk mendirikan pesantren sepertinya agak dibatasi sejalan dengan isu terorisme yang dikaitkan dengan aktivitas di pesantren. Beberapa pesantren yang diselidiki, dimatai2 bahkan tak jarang dituduh tanpa ada bukti sbg antek teroris.

Banyak pesantren yang telah bermetamorfosis menjadi lebih modern dengan menambahkan kurikulum diknas ke dalam madrasah2 yang mereka dirikan, pun pesantren yang mengajarkan keprofesian tertentu kpd santri, seperti Pesantren Darul Fallah, Darun Najah, Hidayatullah, dll. Fenomena ini membuktikan bahwa pesantren tidak mau ketinggalan kereta kemajuan.Namun tetap saja kita tidak  bisa memungkiri data yang menunjukkan bhw kualitas lulusan pesantren atau madrasah berada di bawah lulusan sekolah umum, terlihat dari angka UAN dan kelulusan di UMPTN. Opini masyarakat pun belum bisa kita dobrak. Masih beredar anggapan yang meremehkan pesantren sbg lembaga pendidikan yang bonafide.

Sekarang muncul ghirah baru di kalangan mahasiswa kita untuk lebih memperdalam Islam. (Insya Allah saya akan bahas dalam lain kesempatan). Fenomena ini pun seharusnya memicu pesantren untuk bergiat.Saya sebagai orang pesantren ingin melakukan autokritik krn selama ini kebanyakan kritik muncul dr orang di luar pesantren.

Sedikit banyak yang akan saya ceritakan mungkin agak subjektif, sehingga tidak bisa digeneralisasikan dengan pesantren yang lain Ada beberapa hal yang menjadi highlight pembahasan yaitu:
1. Subject yang diajarkan dan metode pembelajaran
2. Managemen dan Pendanaan pesantren (akan saya bahas dalam tulisan yang lain)
3. Pesantren dan society (akan saya bahas dalam tulisan lain)

Subject yang diajarkan di Pesantren tidak saja banyak tapi pun tumpang tindih. Dalam kasus PP yang mengintegrasikan kurikulum Diknas, Depag dan local content, seperti PP Darul Fallah, terdapat mata ajaran yang sebenarnya sama isinya, misalnya dalam kurikulum Depag tdapat materi Aqidah Akhlaq, di kurikulum PP pun tdapat Akhlakul banin wal banaat. Pun materi Bahasa Arab sejalan dengan pelajaran mahfuuzot, mutholaah, nahwu shorof di pesantren. Jika materi di pesantren dimaksudkan untuk menambah bobot materi Depag, mk seharusnya tidak  ada duplikasi dan outcome-nya semestinya siswa sangat fasih berbahasa Arab. Demikian pula dengan materi Fikih, siswa pun seharusnya menjadi siswa yang benar-benar plus.

Yang patut direform adalah: content dan sistem evaluasi yang harus terdefinisikan dengan jelas. Jika suatu subject adalah alat untuk mempelajari ilmu yang lain, misal bahasa, mk target yang hrs diraih siswa hrs jelas. Misal dengan menguasai Bhs Arab, siswa dapat memahami makna Al-Qur’an, membaca hadits, memahami literatur Arab, berkomunikasi dalam bahasa Arab. Sistem evaluasi hrs dapat mengukur ability dan achievement siswa. Barangkali patut pula memikirkan test kemampuan bahasa semacam TOEFL or TOIEC untuk bhs Arab. Fikih dan akhlaq seharusnya bisa diukur dengan pengamalan ibadah dan personality siswa. Benarkah dia sholat minimal 5 kali sehari, bagaimana sikap, motivasinya dlm belajar, relasinya dengan teman, guru dan orang sekitarnya.

Evaluasi pembelajaran Al-Qur’an juga semestinya terukur dengan betulkah tajwid siswa, lancarkah bacaannya, berapa jam dia membaca Al-Quran per hari, berapa juz yang dia hafal.Untuk mewujudkan itu semua, maka guru pun harus direform. Guru harus ditraining agar memahami betul apa tujuan subject yang diajarkannya, bgmn mencapainya, dan bgm mengevaluasinya. Harus pula mulai dikembangkan Teacher Appraisal System. Selain tentunya memberikan gaji yang layak kpd mereka. Namun hal terakhir ini sepertinya sulit diterapkan di pesantren krn kehidupan zuhud yang mereka jalani. Banyak pelajaran berharga yang saya dapati dalam diri asaatidz yang mengabdi di pesantren. Kesederhanaan hidup salah satunya. Bahwa rizki dari Allah sebenarnya sangat cukup. Yang terpenting kembangkan image untuk tidak iri terhadap harta orang lain. Kehidupan mereka juga merupakan cermin berharga bagi para santri.

  • Share/Bookmark

Related posts:

  1. Di Balik Belajar Multikulturalisme dari Pesantren
  2. Penerimaan Santriwati Baru Tingkat SMP
  3. Miliki Fasilitas Kolam Renang Meski Hanya 10 Siswa (bag. 1)
  4. Negara Bersyariat Islam Itu Menentramkan (Sulitnya Mencari Makanan Halal di Jepang)
  5. Pembelajaran Matematika Secara Kontekstual

1 Comments For This Post

  1. yana ch Says:

    kita menginginkan ada contoh kurikulum pesantren untuk anak usia SD.

Leave a Reply

Advertise Here

Foto dari Flickr kami

Lihat semua

Advertise Here
Sekolahku.info on Facebook